Soppeng,- Ketikterkini.com | Proyek pembangunan Jembatan Toddang Saloe di Desa Kessing, Kecamatan Donri-Donri, Kabupaten Soppeng, kembali menjadi sorotan publik. Betapa tidak , jembatan yang baru berusia sekitar enam bulan pasca penyelesaian pekerjaan tersebut mulai menunjukkan tanda-tanda kerusakan pada sejumlah bagian konstruksinya.
Ketua Monitoring dan Investigasi Lembaga HAM Indonesia (LHI) Kabupaten Soppeng, Afis, menilai kondisi tersebut sebagai indikasi lemahnya kualitas pekerjaan yang seharusnya mampu bertahan dalam jangka waktu panjang.
"Ini sangat memprihatinkan. Proyek yang menelan anggaran sekitar Rp4,3 miliar dari APBD Tahun Anggaran 2025 baru beberapa bulan selesai, namun sudah muncul retakan pada bagian pengecoran. Bahkan permukaan beton terlihat rapuh dan berdebu," ujar Afis.
Menurutnya, kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan besar terkait mutu pelaksanaan proyek, mulai dari kualitas material yang digunakan hingga pengawasan selama proses pengerjaan berlangsung.
"Bagaimana masyarakat bisa menikmati infrastruktur ini dalam jangka panjang jika di usia yang masih sangat muda sudah menunjukkan gejala kerusakan. Seharusnya konstruksi seperti ini mampu bertahan puluhan tahun , bukan malah memunculkan kekhawatiran dalam hitungan bulan," tegasnya.
Berdasarkan pantauan langsung media lokal di lokasi pada Rabu (17/6/2026), beberapa bagian beton jembatan tampak mengalami penurunan kualitas. Permukaan cor terlihat berdebu, rapuh, dan terdapat retakan yang mulai muncul pada sejumlah titik.
Afis menduga kondisi tersebut tidak lepas dari lemahnya pengawasan di lapangan. Ia bahkan menyoroti kemungkinan penggunaan material yang kualitasnya berada di bawah standar.
"Dugaan penggunaan semen berkualitas rendah perlu menjadi perhatian serius. Selain itu, pengawasan teknis selama pengerjaan juga patut dipertanyakan. Jika pengawasan berjalan maksimal, kondisi seperti ini seharusnya bisa dicegah sejak awal," katanya.
Tak hanya pada bagian lantai jembatan, Afis juga menyoroti pekerjaan abutmen atau penahan jembatan yang menggunakan pasangan batu. Menurutnya, hasil pekerjaan pada bagian tersebut terlihat kurang maksimal dan berpotensi memengaruhi kekuatan konstruksi secara keseluruhan.
Diketahui, proyek pembangunan Jembatan Toddang Saloe dikerjakan oleh CV Fayutama Jaya Karya dengan pengawasan dari PT Intra Persada Konsultan menggunakan anggaran APBD Kabupaten Soppeng Tahun 2025.
Atas temuan tersebut, LHI Soppeng mendesak Aparat Penegak Hukum (APH) untuk turun tangan melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap seluruh tahapan proyek, mulai dari proses perencanaan, pelaksanaan pekerjaan, pengawasan teknis hingga penggunaan material.
"Kami meminta APH tidak menutup mata terhadap persoalan ini. Audit menyeluruh harus dilakukan demi memastikan tidak ada praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme dalam proyek yang menggunakan uang rakyat. Infrastruktur yang dibangun dengan anggaran miliaran rupiah harus memberikan manfaat jangka panjang, bukan justru menyisakan tanda tanya besar di tengah masyarakat," pungkas Afis.
Munculnya kerusakan pada proyek yang belum genap satu tahun ini menjadi alarm serius bagi pemerintah daerah agar lebih ketat melakukan pengawasan terhadap setiap pekerjaan konstruksi. Sebab, kualitas pembangunan bukan hanya soal menyelesaikan proyek tepat waktu, tetapi juga menjamin keamanan, kekuatan, dan keberlanjutan manfaatnya bagi masyarakat.
Penulis : Firman

