SOPPENG,- Ketikterkini.com | Proyek pembangunan Jembatan Kessing di Desa Kessing, Kecamatan Donri-Donri, Kabupaten Soppeng mulai menuai sorotan tajam dari masyarakat.
Jembatan yang menelan anggaran sebesar Rp4,3 miliar dari APBD Tahun Anggaran 2025 itu kini dipertanyakan kualitas pekerjaannya setelah ditemukan adanya keretakan pada bagian bangunan meski usia proyek masih relatif baru.
Berdasarkan pantauan langsung awak media di lokasi, terlihat sejumlah bagian bangunan jembatan telah mengalami pembenahan akibat keretakan yang cukup serius. Selain itu, pada beberapa sisi konstruksi juga tampak mulai berdebu dan memperlihatkan tanda-tanda penurunan kualitas bangunan.
Ironisnya, proyek tersebut baru saja rampung dikerjakan oleh CV Fayutama Jaya Karya pada tahun anggaran 2025 lalu. Kondisi itu pun memicu kekhawatiran masyarakat terkait mutu pekerjaan proyek miliaran rupiah tersebut.
Salah satu sumber masyarakat yang enggan disebutkan namanya mengaku kecewa dan mempertanyakan fungsi pengawasan dari pihak terkait terhadap proyek tersebut.
“Kami selaku masyarakat sangat khawatir terhadap kondisi jembatan itu. Memang Inspektorat sudah turun melakukan kunjungan, tetapi apakah itu bisa menjamin kualitas pekerjaan jembatan tersebut?” ujarnya kepada media ini, Jumat (8/5/2026).
Menurutnya, alasan bahwa proyek masih dalam tahap pemeliharaan tidak bisa dijadikan pembenaran atas munculnya kerusakan pada bangunan yang belum lama selesai dikerjakan.
“Kalau pekerjaan masih baru saja sudah retak dan mulai berdebu, bagaimana nanti setelah masa pemeliharaan habis? Apakah nantinya akan kembali dianggarkan perbaikannya atau justru dibiarkan rusak begitu saja?” katanya.
Masyarakat juga mempertanyakan keseriusan pihak pengawas proyek dalam mengontrol kualitas pekerjaan yang menggunakan anggaran daerah hingga miliaran rupiah.
Pasalnya, kerusakan dini pada proyek yang baru selesai dikerjakan dianggap sebagai indikasi lemahnya pengawasan serta patut diduga adanya ketidakmaksimalan dalam proses pengerjaan.
Kondisi tersebut memunculkan desakan agar pihak berwenang, termasuk dinas terkait dan aparat pengawasan internal pemerintah, tidak sekadar melakukan kunjungan formalitas, tetapi benar-benar melakukan audit teknis terhadap kualitas konstruksi jembatan tersebut.
Jika proyek bernilai Rp4,3 miliar saja sudah menunjukkan tanda-tanda kerusakan dalam waktu singkat, publik tentu berhak mempertanyakan ke mana arah pengawasan dan bagaimana kualitas penggunaan uang rakyat dijalankan.
Hinggah berita ini di tayangkan, pihak pelaksana kegiatan belum berhasil dimintai keterangannya.
(Firman)

