LUWU TIMUR,- Ketikterkini.com - Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang melanda kawasan hutan pegunungan di Desa Tarabbi Kecamatan Malili Kabupaten Luwu Timur Sulawesi Selatan, bukan sekadar bencana ekologis.
Ini adalah cermin 'telanjang' dari rapuhnya sistem mitigasi dan perencanaan infrastruktur kehutanan kita.
Di lapangan, ironi itu terpampang jelas. Personel Pemadam Kebakaran (Damkar) dan petugas Kehutanan Luwu Timur telah disiagakan dalam kondisi siap tempur. Namun, semangat itu kandas di tengah jalan.
Penyebabnya, infrastruktur jembatan dan akses jalan tak menunjang menuju titik api seringkali menjadi tembok penghalang yang sulit tertembus.
Akibatnya, api yang semestinya bisa dijinakkan dari awal, justru leluasa merambat dan meluas tanpa perlawanan berarti.
"Ini bukan soal kesiapan petugas, tetapi ini soal akses. Bagaimana petugas bisa memadamkan api jika untuk mencapai titik lokasinya saja tidak bisa dilalui", Ujar sumber warga yang akrab disapa H. Malle.
Kasus Tarabbi harus dibaca sebagai alarm keras. Selama ini, penanganan karhutla yang melanda di berbagai wilayah tanah air cenderung bersifat reaktif padahal, memadamkan api adalah esensi dari pelestarian hutan dengan sistem pencegahan dan kesiapan infrastruktur.
Seyogyanya, pemerintah tidak lagi menutup mata. Dibutuhkan rancangan teknik dan rekayasa infrastruktur yang komprehensif.
Pembangunan jalan inspeksi, jembatan penghubung, dan penyediaan armada damkar hutan yang spesifik dan lincah di medan berat adalah sebuah keharusan, bukan lagi pilihan.
Tanpa intervensi sistematis, jargon "melestarikan hutan" hanya akan menjadi retorika kosong di atas kertas.
Nasthan Yan, Ketua Forum Komunikasi Jurnalis (FKJ) Luwu Timur dalam pengamatannya yang menilai dan mengatakan "Jika pemerintah tidak segera merumuskan program khusus sistem penanganan kebakaran hutan secara terintegrasi, maka hutan Luwu Timur sebagai paru-paru dunia dan penyangga kehidupan perlahan akan tinggal nama", kata ketua FKJ Luwu Timur. Minggu, 20/09/2026.
Lanjut Nasthan memaparkan "Karhutla Tarabbi adalah bukti Ketika akses terputus, maka harapan untuk menyelamatkan hutan pun ikut terputus", paparnya.
Lebih jauh Nasthan mengatakan "Kini bola ada di tangan legislatif dan eksekutif. Sudah saatnya anggaran untuk peralatan damkar hutan yang lengkap, pembangunan akses jalan dan jembatan di kawasan rawan karhutla, disisipkan sebagai program prioritas", tutupnya.
Kasus Karhutla bukan untuk pencitraan, melainkan untuk memastikan masa depan hutan Luwu Timur yang berkelanjutan.*(SALEH).

