SOPPENG,- Ketikterkini.com | Proyek pembangunan Jembatan Kessing yang menelan anggaran miliaran rupiah pada Tahun Anggaran 2025 kemarin menjadi sorotan tajam dari kalangan pemerhati pembangunan. Kondisi fisik jembatan yang mulai menunjukkan keretakan pada permukaan lantai jembatan memunculkan tanda tanya besar terkait kualitas pengerjaan proyek tersebut.
Betapa tidak, Ketua Investigasi dan Monitoring Lembaga Ham Indonesia (LHI) Kabupaten Soppeng, Hafis, menilai kerusakan yang terlihat saat ini patut menjadi perhatian serius pemerintah dan pihak terkait.
Menurutnya, proyek dengan nilai anggaran besar seharusnya mampu memberikan kualitas konstruksi yang baik dan bertahan dalam jangka waktu panjang, namun kondisi bangunan jembatan tersebut sangat mengecewakan. "Melihat kondisi retakan yang sudah muncul pada lantai jembatan yang masih relatif baru , saya menilai pekerjaan ini diduga dikerjakan secara terburu-buru atau tidak sesuai standar mutu yang semestinya. Kami juga menduga mutu beton yang digunakan saat proses pengecoran awal relatif rendah sehingga berpotensi menyebabkan keretakan lebih cepat," ujar Hafis kepada media. Rabu, (10/6/2026).
Ia menjelaskan, selain faktor mutu beton, penyusutan material yang tidak ditangani dengan baik juga sering menjadi penyebab munculnya retakan pada konstruksi beton. Karena itu, perlu dilakukan pemeriksaan teknis secara menyeluruh untuk memastikan penyebab utama kerusakan tersebut.
Tidak hanya pada bagian lantai jembatan, Hafis juga menyoroti kondisi abutmen jembatan yang menurutnya terlihat tidak normal. Pada beberapa bagian pasangan dinding penahan, tampak adanya tonjolan atau penggelembungan yang dinilai mengindikasikan adanya persoalan dalam proses pelaksanaan pekerjaan.
"Kalau kita lihat di bagian abutmen, pasangan batunya banyak yang menggelembung seperti orang hamil. Kondisi seperti ini biasanya terjadi karena kurangnya penggunaan alat bantu acuan seperti waterpas atau benang saat proses pemasangan. Ini menunjukkan indikasi lemahnya pengawasan teknis selama pekerjaan berlangsung," tegasnya.
Sebagai Ketua Investigasi dan Monitoring di Kabupaten Soppeng, Hafis meminta instansi terkait untuk segera melakukan audit teknis terhadap proyek tersebut. Menurutnya, masyarakat berhak mendapatkan penjelasan terkait kualitas pembangunan yang dibiayai menggunakan uang negara.
"Jangan sampai proyek yang baru seumur jagung sudah menunjukkan tanda-tanda kerusakan. Ini menyangkut keselamatan pengguna jalan sekaligus bentuk pertanggungjawaban terhadap penggunaan anggaran negara," katanya.
LHI Soppeng mendesak agar pihak pelaksana, konsultan pengawas, maupun instansi teknis yang bertanggung jawab memberikan klarifikasi kepada publik. Jika ditemukan adanya penyimpangan spesifikasi atau pelanggaran teknis dalam pelaksanaan pekerjaan, maka aparat penegak hukum diminta turun tangan untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut.
Masyarakat kini menunggu langkah konkret pemerintah untuk memastikan kondisi Jembatan Kessing tetap aman digunakan sekaligus menjawab berbagai dugaan yang berkembang terkait kualitas proyek yang dibangun dengan anggaran miliaran rupiah tersebut.
Dengan tayangan ini, pihak terkait belum berhasil dimintai keterangannya terkait dugaan tersebut. Dan media tetap membuka ruang bagi pihak terkait agar segerah memberikan klarifikasi demi berimbangnya pemberitaan.
(Firman)

