Iklan

*Jabatan Boleh Berganti, Adat Jangan Ditinggalkan*

KETIKTERKINI
Rabu, 18 Februari 2026, Rabu, Februari 18, 2026 WIB Last Updated 2026-02-18T06:20:33Z
KETIKTERKINI
Portal berita lokal yang menyajikan informasi aktual, faktual, dan terpercaya untuk masyarakat.
Soppeng,- Ketikterkini.com | Dalam tradisi adat Soppeng, kepemimpinan tidak pernah dimaknai semata sebagai kemenangan politik atau pergantian jabatan. Kepemimpinan adalah 'pasilennereng' estafet kehormatan yang diserahkan dengan kepercayaan, ditopang oleh dukungan banyak pihak, dan wajib dijalankan dengan adab serta tanggung jawab moral.

Nilai ini hidup dalam Pappaseng Toriolo, ajaran leluhur Bugis yang diwariskan lintas generasi sebagai pedoman etika, karakter, dan keseimbangan sosial. Pappaseng tidak hanya mengatur relasi kekuasaan, tetapi juga menjaga kemanusiaan, rasa hormat, dan kehormatan diri. Karena itulah, hingga kini kearifan lokal tersebut tetap dijunjung tinggi di Soppeng sebagai fondasi membangun masyarakat yang beradat dan berbudaya.

Pappaseng Bugis menegaskan nilai-nilai inti kepemimpinan: lempu’ (kejujuran dan integritas), taro ada taro gau (kesatuan kata dan perbuatan), sipakatau, sipakalebbi, sipakainge (memanusiakan manusia, saling menghormati, dan saling mengingatkan), reso (kerja keras dan ketangguhan), serta siri’ (harga diri dan rasa malu).

Orang tua-tua Soppeng mewariskan perumpamaan adat: 'aju malurumi riala parewa bola', kayu yang luruslah yang pantas dijadikan tiang rumah. Maknanya, hanya pemimpin yang lurus hati dan perilakunya yang mampu memberi rasa aman dan keteduhan bagi masyarakat.

Sejarah Soppeng mencatat pemimpin-pemimpin yang memerintah dengan amanah dan keteladanan. Dalam pandangan adat, pemimpin adalah pelindung dari krisis, bukan pencipta konflik. Karena itu, pappaseng kembali mengingatkan: Sirui menre’ tessirui noo,
sitiroang deceng tessitiroang jaa.

Saling mengangkat agar sama-sama naik, saling melihat kebaikan agar tidak buta oleh kuasa. Maka seseorang yang dibukakan jalan, didukung oleh pemimpin sebelumnya, tokoh politik, dan simpul-simpul masyarakat, lalu diberi amanah untuk memimpin, sejatinya sedang memikul utang budi kekuasaan. Utang ini bukan untuk dibayar dengan kepatuhan membuta, melainkan dengan tahu diri, penghormatan, dan kebijaksanaan sikap.

Adat Soppeng tidak melarang seseorang melangkah lebih jauh, dan tidak pula mengikat agar selalu sejalan. Namun adat mengingatkan dengan tegas: 'Narekko muwengka’ pasilennereng, aja’ mupoloi uli’na.
Jika engkau menerima estafet, jangan engkau potong akarnya. Sebab jalan kekuasaan tidak tumbuh sendiri, dan kepemimpinan yang lupa asal-usulnya mudah kehilangan arah.

Dalam pandangan adat Bugis-Soppeng, mempermalukan orang yang pernah menolong, menyerang mereka yang dahulu berdiri di belakang, terlebih ketika amanah belum lama dijalankan, bukanlah tanda keberanian atau ketegasan. Itu adalah gejala lupa diri. Orang tua-tua kembali mengingatkan: Aja’ muolli’ susu, muwalie’ tuba.
Jangan membalas kebaikan dengan racun.
Pengkhianatan terhadap kebaikan adalah luka siri’ yang paling dalam. Pemimpin sejati tidak diukur dari darah dan gelar, melainkan dari sikapnya saat berkuasa. Jabatan tidak bisa diwariskan, tetapi kehormatan hanya dijaga oleh ingatan dan adab.

Pemimpin yang benar, ketika naik tetap menunduk pada jejak; ketika kuat, tetap menyebut nama-nama yang dahulu menguatkannya. Sebab jabatan boleh sementara, namun malu dalam adat tinggal lama.

Soppeng adalah negeri beradat dan berbudaya. Di sanalah kehormatan dijaga, bukan dipamerkan. Jabatan pemerintahan hanya lima tahun, setelahnya tinggal kenangan. Jangan sampai jabatan itu bahkan tidak sampai waktunya turun karena ketiadaan adab dan hilangnya siri’.

Arham MSi La Palellung, Dewan Pendiri Perkumpulan Rumpun Wija Pemersatu Adat Nusantara (PERWIRA ADAT NUSANTARA), menyerukan agar seluruh elemen masyarakat bersama-sama menjaga kearifan lokal Soppeng dari praktik kepemimpinan yang menjauh dari adab, lupa diri, dan abai terhadap pesan leluhur.

Kepemimpinan boleh berganti, kekuasaan boleh beralih, namun adat tidak boleh dikorbankan. Sebab ketika adat ditinggalkan, yang runtuh bukan hanya tata kelola, tetapi jati diri Soppeng itu sendiri.

Soppeng yassisoppengi. Soppeng hanya akan tetap menjadi Soppeng selama adatnya dijaga dan budayanya dihormati.

BIODATA PENULIS
Nama: Arham MSi La Palellung
Panggilan: La Palellung
Latar Belakang: Aktivis pers, pegiat HAM, dan penggiat gerakan moral antikorupsi.
Peran Adat: Dewan Pendiri Perkumpulan Rumpun Wija Pemersatu Adat Nusantara (PERWIRA ADAT NUSANTARA).
Direktur Utama PT MEEI dan PT AMSINet Media
Fokus Pemikiran: Kepemimpinan beradab, etika kekuasaan, kearifan lokal Bugis-Soppeng, pers independen, serta penguatan nilai siri’ dan pappaseng dalam kehidupan publik.
Domisili: Soppeng, Sulawesi Selatan.*
Komentar

Tampilkan

  • *Jabatan Boleh Berganti, Adat Jangan Ditinggalkan*
  • 0

Terkini

Iklan